Rabu, 25 Desember 2013

Keutamaan Berbakti Pada Orang Tua

kasih-ibu1

MAKNA "AL BIRR"
Al Birr yaitu kebaikan, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam (artinya) :          "Al Birr adalah baiknya akhlaq". (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya Nomor 1794).
Al Birr merupakan haq kedua orang tua dan kerabat dekat, lawan dari Al ‘Uquuq yaitu kejelekan dan menyia-nyiakan haq..
"Al Birr adalah mentaati kedua orang tua didalam semua apa yang mereka perintahkan kepada engkau, selama tidak bermaksiat kepada Allah, dan Al ‘Uquuq dan menjauhi mereka dan tidak berbuat baik kepadanya."  (Disebutkan dalam kitab Ad Durul Mantsur 5/259)
Berkata Urwah bin Zubair mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya): "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan." (QS. Al Isra’ : 24). Yaitu: "Jangan sampai mereka berdua tidak ditaati sedikitpun".  (Ad Darul Mantsur 5/259)
Berkata Imam Al Qurtubi mudah-mudahan Allah merahmatinya: "Termasuk ‘Uquuq (durhaka) kepada orang tua adalah menyelisihi/ menentang keinginan-keinginan mereka dari (perkara-perkara) yang mubah, sebagaimana Al Birr (berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau keduanya memerintahkan sesuatu, wajib engkau mentaatinya selama hal itu bukan perkara maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan perkara wajib tapi mubah pada asalnya, demikian pula apabila apa yang mereka perintahkan adalah perkara yang mandub (disukai/ disunnahkan). (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an Jil 6 hal 238).

HUKUM BIRRUL WALIDAIN
Para Ulama’ Islam sepakat bahwa hukum berbuat baik (berbakti) pada kedua orang tua hukumnya adalah wajib, hanya saja mereka berselisih tentang ibarat-ibarat (contoh pengamalan) nya.
Berkata Ibnu Hazm, mudah-mudahan Allah merahmatinya: "Birul Walidain adalah fardhu (wajib bagi masing-masing individu). Berkat beliau dalam kitab Al Adabul Kubra: Berkata Al Qodli Iyyad: "Birrul walidain adalah wajib pada selain perkara yang haram." (Ghdzaul Al Baab 1/382)

Dalil-dalil Shahih dan Sharih (jelas) yang mereka gunakan banyak sekali , diantaranya:
1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya): "Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak". (An Nisa’ : 36).
Dalam ayat ini (berbuat baik kepada Ibu Bapak) merupakan perintah, dan perintah disini menunjukkan kewajiban, khususnya, karena terletak setelah perintah untuk beribadah dan meng-Esa-kan (tidak mempersekutukan) Allah, serta tidak didapatinya perubahan (kalimat dalam ayat tersebut) dari perintah ini. (Al Adaabusy Syar’iyyah 1/434).
2. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya): "Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya". (QS. Al Isra’: 23).
Adapun makna ( qadhoo ) = Berkata Ibnu Katsir : yakni, mewasiatkan. Berkata Al Qurthubiy : yakni, memerintahkan, menetapkan dan mewajibkan. Berkata Asy Syaukaniy: "Allah memerintahkan untuk berbuat baik pada kedua orang tua seiring dengan perintah untuk mentauhidkan dan beribadah kepada-Nya, ini pemberitahuan tentang betapa besar haq mereka berdua, sedangkan membantu urusan-urusan (pekerjaan) mereka, maka ini adalah perkara yang tidak bersembunyi lagi (perintahnya). (Fathul Qodiir 3/218).
3. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya): "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu." (QS. Luqman : 14).
Berkata Ibnu Abbas mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua "Tiga ayat dalam Al Qur’an yang saling berkaitan dimana tidak diterima salah satu tanpa yang lainnya, kemudian Allah menyebutkan diantaranya firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya) : "Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang Ibu Bapakmu", Berkata beliau. "Maka, barangsiapa yang bersyukur kepada Allah akan tetapi dia tidak bersyukur pada kedua Ibu Bapaknya, tidak akan diterima (rasa syukurnya) dengan sebab itu." (Al Kabaair milik Imam Adz Dzahabi hal 40).
Berkaitan dengan ini, Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wassallam bersabda (artinya) : "Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua"  (Riwayat Tirmidzi dalam Jami’nya (1/ 346), Hadits ini Shohih, lihat Silsilah Al Hadits Ash Shahiihah No. 516).
4. Hadits Al Mughirah bin Syu’bah – mudah-mudahan Allah meridhainya, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda (artinya): "Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan tidak mau memberi tetapi meminta-minta (bakhil) dan Allah membenci atas kalian (mengatakan) katanya si fulan begini si fulan berkata begitu (tanpa diteliti terlebih dahulu), banyak bertanya (yang tidak bermanfaat), dan membuang-buang harta".  (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1757).

KEUTAMAAN BIRRUL WALIDAIN
Pertama : Termasuk Amalan Yang Paling Mulia
Dari Abdullah bin Mas’ud mudah-mudahan Allah meridhoinya dia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: Apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: "Sholat tepat pada waktunya", Saya bertanya : Kemudian apa lagi?, Bersabada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam "Berbuat baik kepada kedua orang tua". Saya bertanya lagi : Lalu apa lagi?, Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Berjihad di jalan Allah". (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya).
Kedua : Merupakan Salah Satu Sebab-Sebab Diampuninya Dosa
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya….", hingga akhir ayat berikutnya : "Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga. Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka." (QS. Al Ahqaf 15-16)
Diriwayatkan oleh ibnu Umar mudah-mudahan Allah meridhoi keduanya bahwasannya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih ada pintu taubat bagi saya?, Maka bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Apakah Ibumu masih hidup?", berkata dia : tidak. Bersabda beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Kalau bibimu masih ada?", dia berkata : "Ya" . Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Berbuat baiklah padanya". (Diriwayatkan oleh Tirmidzi didalam Jami’nya dan berkata Al ‘Arnauth : Perawi-perawinya tsiqoh. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim. Lihat Jaami’ul Ushul (1/ 406).
Ketiga : Termasuk Sebab Masuknya Seseorang Ke Surga
Dari Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: "Celakalah dia, celakalah dia", Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya : Siapa wahai Rasulullah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga". (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1758, ringkasan).
Dari Mu’awiyah bin Jaahimah mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua, Bahwasannya Jaahimah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian berkata : "Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang (ke sini) untuk minta nasehat pada anda. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Apakah kamu masih memiliki Ibu?". Berkata dia : "Ya". Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Tetaplah dengannya karena sesungguhnya surga itu dibawah telapak kakinya". (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Nasa’i dalam Sunannya dan Ahmad dalam Musnadnya, Hadits ini Shohih. (Lihat Shahihul Jaami No. 1248)
Keempat : Merupakan Sebab keridhoan Allah
Sebagaiman hadits yang terdahulu "Keridhoan Allah ada pada keridhoan kedua orang tua dan kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan kedua orang tua".
Kelima : Merupakan Sebab Bertambahnya Umur
Diantarnya hadit yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Barangsiapa yang suka Allah besarkan rizkinya dan Allah panjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim".
Keenam : Merupakan Sebab Barokahnya Rizki


Sumber : Ditulis oleh Rizal Al-Farizi, Tegal


Simak di: http://www.sarkub.com/2013/keutamaan-berbakti-pada-orang-tua/#ixzz2oXt3kwgH
Powered by Menyansoft
Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on Facebook

Bahaya Belajar Agama Lewat Internet / Buku Tanpa Guru


belajar_internet
ﻭَﻻَ ﺗَﻘْﻒُ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻚَ ﺑِﻪِ ﻋِﻠْﻢٌ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ
ﻭَﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ ﻭَﺍﻟْﻔُﺆَﺍﺩَ ﻛُﻞُّ ﺃُﻭﻟـﺌِﻚَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻨْﻪُ
ﻣَﺴْﺆُﻭﻻً )ﺍﻹﺳﺮﺍﺀ : 36
 )
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (QS. Al-Israa’:36)
Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib berkata, “Tidak akan didapat ilmu (yang bermanfa’at-pen) kecuali dengan enam perkara……yaitu harus CERDAS, SEMANGAT, BERSABAR, MEMILIKI BIAYA, MEMILIKI GURU PEMBIMBING DAN WAKTU YANG LAMA.”
Berkata Al-Kholil bin Ahmad,
ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺭﺟﻞ ﻳﺪﺭﻱ ﻭﻻ ﻳﺪﺭﻱ ﺃﻧﻪ
ﻳﺪﺭﻱ ﻓﺬﺍﻙ ﻏﺎﻓﻞ ﻓﻨﺒﻬﻮﻩ ﻭﺭﺟﻞ ﻻ ﻳﺪﺭﻱ
ﻭﻳﺪﺭﻱ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺪﺭﻱ ﻓﺬﺍﻙ ﺟﺎﻫﻞ ﻓﻌﻠﻤﻮﻩ
ﻭﺭﺟﻞ ﻳﺪﺭﻱ ﻭﻳﺪﺭﻱ ﺃﻧﻪ ﻳﺪﺭﻱ ﻓﺬﺍﻙ ﻋﺎﻗﻞ
ﻓﺎﺗﺒﻌﻮﻩ ﻭﺭﺟﻞ ﻻ ﻳﺪﺭﻱ ﻭﻻ ﻳﺪﺭﻱ ﺃﻧﻪ ﻻ
ﻳﺪﺭﻱ ﻓﺬﺍﻙ ﻣﺎﺋﻖ ﻓﺎﺣﺬﺭﻭﻩ
“Orang-orang itu ada empat macam:
1. Seorang yang mengetahui dan tidak mengetahui bahwasanya ia mengetahui, itulah orang yang lalai maka ingatkalah ia
2. Dan seorang yang tidak tahu dan ia mengetahui bahwasanya ia tidak tahu, itulah orang yang jahil (bodoh) maka ajarilah ia.
3. Dan seorang yang mengetahui dan ia tahu bahwasanya ia mengetahui, itulah orang yang pandai maka ikutilah.
4. Dan seorang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwsanya ia tidak tahu, dan dia mengajarkan orang, itulah orang tolol maka jauhilah dia”          (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/441 no 828)
Sudah sejak lama Alfaqier ingin membahas tentang hal ini. Baru sekarang rupanya momen yang tepat. Alfaqier menulis ini bukan supaya pembaca jadi tidak pernah lagi kirim2an artikel Islami via email, browsing web2 religius, Fb , tapi sekedar untuk mengingatkan bahwa itu saja tidak cukup.
Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dalam belajar agama di internet ini,
1. Bahaya Dengan adanya sumber yang berlimpah, maka orang merasa sudah tahu, dan merasa tidak perlu lagi bertanya-tanya kepada orang yang lebih tahu. Padahal seringkali apa yang kita baca di internet tidak sepenuhnya kita pahami sebagaimana yang diinginkan oleh penulisnya. Dan Pembaca juga gak tau SIAPA SI PENULIS.  Terutama jika situasi dan kondisi penulis tidak sama dengan situasi dan kondisi pembaca. Seperti Qur’an yang terkadang hanya bisa dipahami dari asbabun nuzulnya, bukan hanya dari apa yang tertulis saja…
2. Merasa tidak perlu menuntut Ilmu kepada Ulama. Ini juga menjadi penyakit yang sangat parah. Bersilaturrahiim kepada ulama tidak bisa digantikan dengan baca-baca buku dan browsing internet. Pahala duduk dalam majelis ilmu, fadhilah memandang wajah ulama, keutamaan duduk dalam majelis-majelis dzikir, manfaat mendengar bayan dan penjelasan ulama, jelas tidak bisa didapat dengan duduk berlama-lama memencet tuts keyboard dan meng-klik mouse. Dan, menghadiri majlis Ilmu ini bukan hanya sekedar saat kita ingin bertanya tentang masalah hukum agama saja. Silaturrahiim kepada ulama ini memang banyak fadhilahnya. Dan untuk menanyakan persoalanpun, sebenarnya tidak sopan kalau cuma sms-an, tapi akan lebih ber-adab jika berkunjung dan meminta nasehat langsung. Tentu saja, untuk saat-saat darurat, tidak
mengapa jika terpaksa menelepon atau kirim sms…
3. Internet tidak pandai memilah-milah karena Internet juga gak ada gurunya, makanya yang belajar via Internet atau buku itu sesat menyesatkan) mana yang penting dan mana yang tidak. Karena internet tidak pandai/tidak ada gurunya, lalu kemudian kita sendiri yang memilah-milah, bahan dan apa yang akan kita baca. Dan kemudian kita memilah-milah berdasarkan apa yang terjadi dan kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Masalahnya adalah, terkadang, perkara yang amat penting itu tidak kita jumpai (baca: tidak kita rasakan) dalam kehidupan sehari-hari, padahal itu ada. Akhirnya terkadang kita jadi sibuk dengan membahas perkara2 yang sebenarnya biasa-biasa saja dan melupakan perkara-perkara lain yang lebih penting, karena hasil googling “I’m Feeling LuckyTM” membawa kita kesana.
4. Internet itu rimba belantara. Tidak ada sesiapapun yang mengontrol benar dan salah di internet. Sebagaimana di hutan dimana yang menjadi raja adalah yang paling kuat, di belantara internet, yang menjadi raja adalah yang paling tinggi rangking google rank-nya. Kalau dalam dunia bisnis dan dunia eknomi yang memang sehari-hari berkutat dengan internet sih tidak masalah. Karena pada saat itu, benar dan salah jadi tidak ada, yang ada hanya request and demand.
Tapi dalam hal agama, dimana ulama-ulama hakiki (ulama yang sesungguhnya) sedang sibuk dengan dzikir, muroqobah, dan murajaah, maka orang-orang yang merasa tahu menuliskan apa yang mereka rasa tahu dan dibaca oleh orang yang sama-sama tidak tahu, dan… begitulah. Mudahnya fasilitas forward dan copy paste juga membuat sebuah pendapat yang sebenarnya belum tentu benar, jadi terlihat benar karena ada dimana-mana. Duh..ba…ha…ya….
MENGAPA BELAJAR PERLU GURU ?
MANFAAT BERGURU adalah agar terhindar dari perkara-perkara yang SESAT & untuk mnghindari FITNAH.
Adapun fungsi GURU atau SANAD (sandaran) adalah mencegah manusia untuk berbicara semaunya /seenak Gue, atau bicara hanya berdasarkan dari kerangka otaknya doang.
DENGAN SANAD, maka Hal-hal yang diajarkan Rosululloh, terjaga keaslian isi ilmunya, tanpa ada yang dikurangi atau di tambah-tambah (DI MODIFIKASI MANUSIA).
( Kata Al-Imam Ali Zainal Abidin
“laula isnada ma qola sa’a ma sa’a”= jika tanpa isnad memang orang bisa berkata apa saja yang dikehendakinya. )
Belum ada dalam sejarah seorang ulama besar lahir dari belajar kepada buku atau dari internet. Yang Ada Qulama (Sesat jadi ulama)
Ilmu adalah keahlian dan setiap keahlian membutuhkan ahlinya, maka untuk mempelajarinya membutuhkan muallimnya yang ahli (guru pembimbing).
Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid berkata, “Ini hampir menjadi titik kesepakatan di antara para ulama kecuali yang menyimpang.” Ada ungkapan, “Barangsiapa masuk ke dalam ilmu sendirian maka dia keluar sendirian.”
Syaikh Bakr berkata, “Maksudnya barangsiapa masuk ke dalam ilmu tanpa syaikh maka dia keluar darinya tanpa ilmu, hanya mendapatkan kesesatan.”
Syaikh Bakr menukil ucapan ash-
Shafadi, “Jangan mengambil ilmu dari shahafi (ahli tajwid) dan jangan pula dari mushafi (org yg berpendat menurut dirinya sendiri), lalu Syaikh Bakr berkata, “Yakni jangan pelajari al-Qur`an kepada orang yang ahli membaca tapi pelajari dari Ahli ilmu (Ulama) dan jangan membaca hadits dan lainnya dari orang yang mengambilnya dari buku.”
Sebagian ulama berkata,
ﻓَﻴَﻘِﻴْﻨُﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻤُﺸْﻜِﻼَﺕِ ﻇُﻨُﻮْﻥُ ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ
ﻳُﺸَﺎﻓِﻪْ ﻋَﺎﻟِﻤًﺎ ﺑِﺄُﺻُﻮْﻟِﻪِ
Barangsiapa tidak mengambil dasar ilmu dari ulama, maka keyakinannya dalam perkara adalah TERTOLAK
Abu Hayyan berkata,
ﻳَﻈُﻦَّ ﺍﻟﻐَﻤْﺮُ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻜُﺘُﺐَ ﺗَﻬْﺪِﻱ ﺃَﺧَﺎ ﻓَﻬْﻢٍ
ﻹِﺩْﺭَﺍﻙِ ﺍﻟﻌُﻠُﻮْﻡِ
Anak muda mengira bahwa buku membimbing orang yang mau memahami untuk mendapatkan ilmu
ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺪْﺭِﻱ ﺍﻟﺠَﻬُﻮْﻝُ ﺑِﺄَﻥَّ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﻏَﻮَﺍﻣِﺾَ
ﺣَﻴَّﺮَﺕْ ﻋَﻘْﻞَ ﺍﻟﻔَﻬِﻴْﻢِ
Orang bodoh tidak mengetahui bahwa di dalamnya terdapat kesulitan yang membingungkan akal orang
ﺇِﺫَﺍ ﺭُﻣْﺖَ ﺍﻟﻌُﻠُﻮْﻡَ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺷَﻴْﺦٍ ﺿَﻠَﻠْﺖَ ﻋَﻦِ
ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁِ ﺍﻟﻤُﺴْﺘَﻘِﻴﻢْ
Jika kamu menginginkan ilmu tanpa syaikh, niscaya kamu tersesat dari jalan yang lurus
ﻭَﺗَﻠْﺘَﺒِﺲُ ﺍﻷُﻣُﻮْﺭُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺼِﻴْﺮَ ﺃَﺿَﻞَّ ﻣِﻦْ
ﺗُﻮْﻣَﺎ ﺍﻟﺤَﻜِﻴْﻢِ
Perkara-perkara menjadi rancu atasmu sehingga kamu kebih tersesat daripada Tuma al-Hakim Alfaqier yakin masih banyak nomor alasan lain akan bahaya ilmu tanpa guru.
Alfaqier hanya ingin sekedar mengingatkan diri Alfaqier sendiri dan semoga bermanfa’at untuk yang lain, agar kita sering-sering berkunjung kepada ulama, giat mengikuti Majelis-majelis Ilmu, belajar agama di the real world. “Cut your wire sometime” Wallohu ‘Alam.

Sumber : Ustadz Sulaiman


Simak di: http://www.sarkub.com/2013/bahaya-belajar-agama-lewat-internet-buku-tanpa-guru/#ixzz2oXrOLgp3
Powered by Menyansoft
Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on Facebook

Kamis, 19 Desember 2013

HIKMAH MEMOTONG KUKU



Cara membersihkan tubuh selain kita harus mandi, juga dengan membersihkan atau memotong kuku. Bagi orng Islam, memotong kuku memang salah satu SUNNAH yg telah diperintahkan oleh nabi Muhamad SAW sejak zaman dulu terlebih lagi pd hari Jum'at.

Dalam hadisnya yg lain Rasulullah SAW bersabda:
"Wahai Abu Hurairah, potonglah (perpendek) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan mengikat (melalui) kuku- kuku yang panjang." (HR. Ahmad)

Adapun hikmah daripada pensyariatan memotong kuku adalah menghilangkan kekotoran yg melekat atau berkumpul di celahnya. Kotoran itu jika tidak dibersihkan akan dan boleh menghalang air ketika bersuci. Selain itu, jika kuku dibiarkan panjang segala kekotoran atau najis akan terlekat padanya

Selain hikmah dr segi Agama di atas, berikut ini hikmah memotong kuku dari segi kesehatan:

1. Mnghindari kita dr penyakit pencernaan dan penyakit mata. Mikroba pathogen mrupakan perantara penyebaran penyakit. Yg mengerikan mikroba jenis ini sering bersarang pada kuku kita ,terutama kuku yg panjang, dan pastinya kuku yg panjang menjadi sarana akan mempertemukan kita dgn berbagai jenis penyakit.

2. Mencegah kita dr berbagai macam infeksi. Dgn memotong kuku yg melebihi jari, maka bagian kulit di bawah kuku dapat mudah dibersihkan, tidak cacat, dan jari-jari kita dapat mudah bekerja secara maksimal. Dgn kuku panjang, aktivitas kita dapat terganggu dan mungkin juga interkasi kita dgn orang lain menjadi kurang leluasa.

3. Menjauhkan penularan penyakit kpd orang lain. Kuku yg kotor menyimpan banyak kuman yg dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan yg dikonsumsi. Jika tangan dan kuku kita kotor lalu berjabat tangan dngn orang lain, bukan tidak mungkin jika orang tersebut terkena penyakitkarena berasal dari kuku kita.

Itulah beberapa hikmah dan manfaat memotong kuku, tentunya kita harus rajin memotong kuku agar terhindar dari berbagai macam najis dan penyakit.

Selamat memotong kuku..:)

Jum'ah mubaarakah..

di Kutip dari :https://www.facebook.com/PersatuanPemudaPemudiMajelisRasulullah

Kamis, 12 Desember 2013

PBNU Ingatkan sejumlah Yayasan Radikal

Surabaya, NU Online
Merebaknya teror terhadap rumah ibadah serta fasilitas umum yang kian marak akhir-akhir ini tidak dapat dilepaskan dari munculnya sejumlah yayasan penganut paham Salafi Wahabi. Pemerintah harus melakukan langkah-langkah nyata untuk meredamnya. 
Hal ini disampaikan Ketua Pengurus Besar Nadlatul Ulama (PBNU) KH Said Agil Siroj kepada sejumlah media usai melantik Pengurus Wilayah NU Jawa Timur (22/8). Kiai Said bahkan mengungkapkan ada sekitar dua belas yayasan penganut paham tersebut yang tersebar di sejumlah kota di Indonesia. Kota-kota dimaksud seperti Jakarta, Cirebon, Bogor, Sukabumi, Makassar, Bandar Lampung, Jember, Bondowoso bahkan di Surabaya.

Salah satu yayasan penganut Salafi Wahabi yang ada di Surabaya adalah al-Fitroh yang beralamatkan di di Ruko Galaxy No. 26-30. 
“Kalau di Cirebon namanya As-Sunnah. Itu bukan teroris, tapi radikal atau Wahabi yang satu digit lagi akan jadi teroris. Wahabi tidak mengajarkan bom tapi akibat dari ajarannya radikal itulah nantinya yang akan jadi teroris,” ungkapnya.
 Paham Wahabi, lanjut Kiai Said, diantaranya menganggap ziarah kubur sebagai kegiatan bid’ah dan menanggap orang NU itu adalah kafir yang halal untuk dibunuh. Ajaran yang seperti ini sudah tidak dibenarkan.

“Yang jelas terorisme harus dilawan karena teroris adalah musuh kita bersama,” katanya. “Sikap kami tegas meminta Presiden membubarkan ormas radikal itu dan NU siap berada di belakang presiden,” lanjutnya.

Saat ditanya apakah sumber yang didapat NU terkait dua belas nama yayasan cikal bakal teroris tersebut valid, dia menyatakan hal itu sangat jelas sumbernya. “Ya jelas dong, masa ya saya ngarang. Tapi yang pasti yayasan terbesar ya ada dua belas itu,” tandas Kiai Said. 
Sebelumnya Kiai Said mengingatkan para pengurus dan warga NU untuk tetap menjaga keutuhan bangsa dengan Islam Alussunnah wal Jamaah. 
“Di Indonesia, kita memiliki NU yang merupakan organisasi sosial keagamaan terbesar sehingga mampu meredam sejumlah gejolak yang akan memicu disintegrasi dan kerusuhan massal,” katanya.

Kiai Said membandingkan kondisi negara Timur Tengah yang terus begolak. “Di negara-negara itu ada polisi dan pasukan militer,” katanya. “Namun karena tidak memiliki organisasi kemasyarakatan yang mengakar, sehingga kerusuhan tidak bisa terhindarkan,” lanjutnya. 
Karena itu Kiai Said mengharapkan agar keberadaan NU terus menjadi perekat umat dan tidak mudah tercerai berai. “Marilah kita jaga keutuhan Indonesia dengan Islam Ahlussunnah wal Jamaah,” katanya.   

Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Syaifullah

SYAFIK HASYIM* Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya (2)


Sebelum menelisik ke beberapa ruang maya kaum Salafi Indonesia, saya sedikit mengulas fenomena religion online dan online religion, yang diperkenalkan oleh Hadden dan Cowan (2000). Mereka menggambarkan religion online sebagai penyediaan informasi tentang agama seperti tentang doktrin, kebijakan, organisasi, pelayanan, dan macam-macam lainnya bagi para penjelajah dunia maya.
Sifat religion online adalah pasif. Sementaraonline religion bersifat aktif karena dalam hal ini, web provider tidak hanya menyediakan informasi, namun mengajak web traveller untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan dimensi agama melalui web seperti liturgi, meditasi, dan aktivitas-aktivitas lainnya.[1]

Kategori sosiologis di atas cocok digunakan untuk melihat kaum Salafi Indonesia dalam menggunakan ruang maya. Dalam hal ini, apa yang dilakukan oleh mereka lebih dekat pada pada model religion online daripada online religion. Mereka menyediakan sebanyak informasi dan jawaban-jawaban atas problematika agama berdasarkan keyakinan mereka. Ada interaksi memang antara web traveller namun interaksi tersebut biasanya bersifat diskursif yang misalnya terlihat dalam rubrik fatwa dimana biasanya disediakan ruang dialog (reply to). Di sini, dialog terjadi, bukan hanya pemberi fatwa dan peminta fatwa, namun juga dengan peserta yang lebih banyak.

Lalu apa yang terjadi dengan ruang maya yang dikelola oleh kaum Salafi Indonesia?

Kasus pertama adalah http://firanda.com. Tagline dari web ini adalah tebarkan Ilmu, Tumbuhkan Amal, Petiklah Ridho Ilahi, sebuah tagline yang bisa dimaknai ilmu, amal dan izin dari Allah sebagai hal yang paling utama dalam hidup ini. Ini adalah blog atau web page ataupun salah satu contoh yang paling bagus ruang maya yang diinisiasi oleh kaum Salafi Indonesia. Meskipun pemiliki ruang ini adalah Firanda Andirja Abidin kemungkinan tinggal di Madina, karena sedang menyelesaikan gelar doktornya pada University of Medina.
Agak berbeda dengan ruang maya lain, web yang dikelola oleh Abu Abdil Muhsin (nama julukannya) menampakkan kejelasan identitas kesalafiannya atau kewahabiannya. Kejelasan ini bisa dilihat dalam rubrikasi dan isu webnya. Selain menampilkan pelbagai informasi mengenai ajaran Salafi-Wahhabi, web ini berusaha menyerang kalangan-kalangan yang dianggap berbeda dengan mereka. Karakter menyerang dengan kalangan yang berbeda ini adalah hal yang menonjok dalam semua ruang maya kaum salafi.
Dalam salah satu artikelnya, Firanda menulis soal bagaimana sebenarnya ajaran tentang perayaan hari lahir Nabi menurut pendiri NU, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Dalam tulisan ini, Firanda cukup menulisnya Kiyai, bukan hadratus syaikh sebagaimana julukan ini popular di kalangan nahdliyyin di Indonesia.[2] Secara politik kebahasaan ini adalah bentuk delegitimasi karena dalam kesempatan lain ia memakai syaikh untuk ulama-ulama Saudi zaman sekarang.

Rubrikasi yang ditampilkan dalam web ini adalah (1) artikel (2) kajian (3) download (4) tentang kami (5) daftar isi dan (6) jadwal kajian rutin.

Dalam rubrik artikel, hal yang dimuat adalah persoalan-persoalan mengenai akidah (sebagai pokok), tafsir, hadis, fiqih, sirah (sejarah hidup), manhaj (metode), dan masih banyak hal lain. Menariknya, di rubrik artikel ini disediakan “bantahan”. Bantahan ini nampaknya dimaksudkan sebagai upaya untuk membantah, membela dan mempertahankan diri dari tuduhan-tuduhan ataupun pernyataan-pernyataan pihak lain yang selama ini dilayangkan pada kelompok keyakinan dan amalan kelompok Wahhabi dari pihak lain.
Di sini misalnya, dimuat bantahan atas Guru Ijai al-Banjari dan Habib Mundzir yang meyakini bahwa kita umat manusia zaman sekarang masih bisa berjumpa dengan Nabi Muhammad dalam keadaan berjaga misalnya dalam peringatan Maulid Nabi. Pernyataan ini didasarkan pada argumen-argumen sufistik.[3] Menurut Firanda, perbuatan kedua guru sufi tersebut dianggap bagian dari khurafat Islam. Tidak lupa Firanda mengutip sejumlah pendapat kalangan ulama dari madhhab Syafii untuk mendukung argumentasinya, misalnya, pendapat dari Ibn Hajar al-Asqalani, al-Dhahabi, Ibn Kathir dan al-Sakhawi yang kesemuanya memiliki pendapat menolak pendapat orang hidup zaman sekarang bisa bertemu dalam keadaan terjaga dengan Nabi.
Selain, bantahan yang bersifat tekstual, Firanda juga membantah kedua guru sufi di atas dengan logika yang didasarkan pada cara pandang kaum Wahhabi yang apapun alasannya tidak bisa menerima sufisme dan sufisme bagian dari penyelewengan Islam.  Sementara pada pihak lain, guru Ijai al-Banjari dan Habib Mundzir adalah sangat sufistik, melihat Islam bukan pada lahir tekstualnya, namun juga pada pengalaman batin dimana pengalaman batin tidak selalu bisa dihukumi oleh pengalaman lahir. Pendek kata, kedua akan bisa bertemu karena Wahhabi yang diwakili oleh Firanda menolak asumsi-asumsi kebenaran sufistik, sementara Muslim Sunni Indonesia, melihat sufisme sebagai bagian dari ajaran Islam. Meskipun tidak terlalu banyak, artikel ini mendapatkan tanggapan dari pembaca baik pro maupun kontra pada keduanya.

Namun dialog ini adalah dialog sepihak karena kedua guru sufi di atas tidak memberikan jawaban dank arena Firanda sendiri tidak pernah bertemu dan berdiskusi langsung dengan mereka. Diskusi ini akan menjadi menarik juga ada proses timbal balik kedua pihak sebagaimana yang terlihat dalam polemik Firanda dengan Idrus Ramli. Keduanya menampakkan kehausan akan polemik, tapi sayangnya, Firanda tidak meneruskan polemiknya dengan Idrus Ramli. Bantahan terakhir yang diberikan oleh Firanda kepada ustadz Idris Ramli dalam rubik ini adalah pada tanggal 18 Mei 2012 dalam masalah Ibn Taymiyyah tentang istigohasah. Dalam tanggapan terakhirnya ini, Firanda tidak mau meneruskan polemiknya dan nampak mengalami kesulitan berbantah-bantah dengan Idrus Ramli dalam masalah ini,[4] sementara Idrus Ramli dalam akun Facebooknya terus mengajak polemik dan menurunkan bantahannya pada tanggal 21 Mei 2012, dengan tajuk “Istighasah dan Kebodohan Wahhabi.”

Bahkan, Idrus Ramli turun juga dalam menanggapi artikel Firanda yang bernada mengkhurafatkan Guru Ijai dan Habib Mundzir. Idrus Ramli membantah dalil-dalil yang dikemukakan oleh Firanda dan menunjukkan bahwa Firanda tidak jeli dalam memahami leksikografi Arab. Ramli misalnya menyatakan jika Firanda tidak bisa membedakan istilah ra’a (melihat) dan laqiya (bertemu) dan secara sengaja melakukan pilihan analisisnya (analytical preference) padahal jelas hadis yang dikutipnya memuat pernyataan bahwa orang bisa bertemu Nabi setelah Nabi wafat. Menurut Ramli dalam banyak hal, Firanda sengaja menyembunyikan hal-halnya yang seharusnya dikemukakan.
Namun, apa yang dilakukan oleh Firanda dalam hal ini bisa dipahami karena dia sedang melakukan propaganda ajaran dan dalam propaganda ajaran politics of quotation and analysis adalah bagian yang tak terpisahkan. Di sinilah fungsi lawan polemiknya berperan sebagaimana yang dilakukan oleh ustadz Idris Ramli.  Secara umum, saya melihatnya ini bukan forum keilmuan murni, namun lebih tepat sebagai “battle of ideology” karena baik Firanda dan Ramli tidak berusaha mencari dan melihat kelemahan masing-masing dan berusaha mencari titik temu sebagaimana yang dianjurkan dalam dunia ilmu. Dalam dunia keilmuan, melakukan pengakuan atas kelemahan argumen yang kita bawakan, jika memang lemah, adalah keharusan. Jika kita tidak mau mengakui, maka hal itu adalah bukan wilayah ilmu, namun wilayah ideologi atau juga wilayah keyakinan.

Selain memberikan informasi tulisan, Firanda juga mengupload ceramah-ceramah dia dalam bentuk youtube. Sampai saat ini, web traveller bisa menikmati sekitar 10 youtube  yang disajikan oleh Firanda dalam rubric “vedio.” Vedio ini diproduksi oleh yufid.tv. Dalam salah satu youtube, dengan berbekal IPAD dan berlatar belakang venue yang indah, kolam renang di belakangnya, kicauan burung dan resort yang indah, http://firanda.com/index.php/video?start=45, Firanda tampil dalam tema Gambaran Bidadari Surga” dimana dia bercerita tentang secercah kenikmatan dunia yakni memecahkan keperawanan bidadari surga. Tampilan ini tidak banyak mengundang komentar. Selain itu, web ini juga memuat CD-CD yang pernah disiarkan oleh radio Rodja. Radio Rodja sendiri telah lama dicurigai sebagai corong Wahhabi di Indonesia dan melalui web page Firanda ini, kebenaran hubungan antara Radio Rodja dan kalangan salafi Wahhabi terbuktikan.

Apa yang ditampilkan oleh Firanda dalam web-page nya di atas adalah masih merupakan jalan yang positif karena berusaha memprogandakan ideologi Salafi-Wahhabinya lewat media yang bisa diakses, dibaca dan dikomentari oleh publik secara bebas. Bahkan, dalam web pagenya, Firanda juga bersedia menampilkan bantahan-bantahan yang dikemukakan oleh lawan polemiknya, meskipun itu sudah merupakan keharusan baginya sebagai sifat keadilan untuk memberi konteks perdebatan atau polemik pada pada pembacanya.

Selain, web page di atas, kaum Salafi-Wahhabi Indonesia adalah membangun Radio Rodja. Rodja sendiri merupakan kependekan dari Radio Dakwah Ahlusunnah Waljamaah. Bahkan Radio Rodja adalah bagian yang terpenting bagi propaganda Salafi Wahhabi di ruang maya. Radio Rodja ini berpusat di Bogor dan sudah mengudara sekitar 7 tahunan, sejak pertama kali muncul tahun 2004.

Identitas Radio Rodja sebagai corong Salafi –bahasa yang digunakan adalah Salafus salih-- ini jelas diakui sendiri dalam visi dan misi Radio ini. Dikatakan bahwa visi Radio ini adalah (1) Mengembalikan umat kepada pemahaman islam yang benar sesuai al Qur’an dan as Sunnah menurut pemahaman generasi terbaik umat (salafush shalih) (2) Menjadi media pembinaan agama islam yang mampu memnyampaikan pesan-pesan ke-islaman yang sesuai dengan pemahaman para generasi islam yang pertama dan utama. Karenanya, apa yang dilakukan oleh Radio ini adalah memerangi bidأٹآ؟ah, syirik dan jenis pemikiran yang menyimpang dari ajaran Salafi-Wahhabi.

Radio Rodja yang bisa dilakses lewat internat pada http://www.radiorodja.com adalah salah satu pilihan mereka. Tagline dalam radio tersebut adalah “menyebar cahaya sunnah.” Jika kita mengklik link di atas maka langsung anda akan mendengarkan lantunan Qur’an. Namun web ini adalah bukan radio itu sendiri karena Radio Rodja bisa didengarkan lewat gelombang 756AM, http://www.indonesia.listenradios.com/radio-rodja-756-am/. Dalam web radio ini kita jumpai materi yang sangat kaya tentang persoalan-persoalan akidah, fiqih dan hal-hal umum.  Semua ceramah bisa didownload jadi fungsi web ini adalah sebagai showcase untuk mendengarkan materi lebih lanjut. Streaming bisa juga dilakukan atas Radio tersebut lewat winamp, windows media player dlsb. Nara sumber-nara sumber yang diundang rata-rata bergelar LC sebuah gelar yang banyak diberikan pada mereka yang pernah belajar di Saudi atau negara timur tengah lainnya.

Selain berbasis di Bogor, radio Rodja juga  memiliki station relay untuk wilayah Bandung,  http://radiorodjabandung.com mulai pada Juni 2011. Kehadiran Radio Rodja Bandung ini merupakan kelanjutan atas keberhasilan Radio Rodja Cileungsi sebagai radio yang berhasil menyiarkan dakwah salafiyyah. Hal ini diakui sendiri oleh pengelola radio tersebut: “Dengan kepercayaan dan dukungan Radio Rodja Cileungsi AM 756 kHz beserta para pendengarnya yang telah terbukti sangat efektif di kalangan masyarakat sebagai media dakwah salafiyyah yang hadir di wilayah Jabodetabek selama kurun waktu 5 tahun, mendorong dan memotivasi Radio Rodja Cileungsi untuk melakukan perluasan jangkauan siaran ke wilayah siar Bandung dan sekitarnya dengan memanfaatkan program siaran via satelit palapa.”[5]

Bahkan tidak hanya di Bandung, Radio Rodja sudah melebarkan sayapnya ke daerah-daerah lain seperti Radiio Rodja Beray (95.1 FM), Radio Rodja Lampung (91.1 FM), Radio Rodja dan Radio Rodja Pontianak (101.4 FM) dan juga Tannung Pinang (96 FM). Selain lewat Radio, akhirnya siaram-siaran tentang Ahlussunah Waljamaah versi Salafi-Wahabi juga bisa dinikmati lewat TV Rodja. Mereka yang memiliki smartphone bisa menikmati baik siaran Radio maupun TV Rodja darimana saja.

Pengunaan Radio untuk sarana dakwah kalangan Salafi Wahhabi ternyata bukan fenomena Indonesia saja, namun merupakan kecenderungan global di dunia lainnya.[6] Ini lama terkait dan merupakan perpanjangan apa yang banyak kalangan sebut sebagai radio fatwa di beberapa negara Timur Tengah. Namun, bedanya dengan radio fatwa, radio maya ini adalah fleksibilitas dan akseptibilitas. Sepanjang didapatkan internet connection, maka di situlah kita bisa mendengarkan siaran mereka. Karenanya, penyebaran ide lewat radio maya memiliki jangkauan yang lebih luas.

*Rais Syuriyah PCINU Jerman

SYAFIQ HASYIM, Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya Bag-1

Tidak dinyana sebelumnya, kesadaran kaum salafi terutama di Indonesia untuk menggunakan ruang publik sebagai spatial medium bagi dakwah mereka begitu menakjubkan. Kelompok ini sangat cepat belajar menatap kebutuhan masa depan mereka. Setelah era majalah cetak di kalangan mereka habis, ditandai dengan kejatuhan majalah cetak Sabili, Hidayatullah, dan beberapa jenis yang lainnya, kaum salafi begitu cepat melakukan proses adaptasi keonline media.
Sebagaimana yang saya sebutkan di tulisan sebelumnya –lihat dua post terakhir saya—, gejala seperti ini, selain dilatarbelakangi oleh “kewarasan” mengenai perlunya terus eksis di ruang publik, gejala ini juga menunjukkan adanya penerimaan yang rendah atas kelompok ini di ruang konkrit kalangan Muslim Indonesia. Karenanya, bagi mereka, hijrah untuk menggunakan ruang online media atau internet merupakan ruang baru yang menjanjikan. Sebuah medan baru untuk melaksanakan jihad baru juga. Jihad lama dengan senjata tidak dihapus, namun jihad baru melalui pena dan tulisan perlu digalakkan. 
Tulisan ini tidak ingin mencari bagaimana masalah penggunaan teknologi internet atau online untuk keperluan dakwah di kalangan salafi, namun lebih ingin melihat antusiasme mereka dalam mengelola, menyajikan dan mengkampanyekan opini, diskursus, berita yang bernuansa salafi melalui surat kabar atau majalah, webpage, facebook, dan sarana-sarana online mereka lainnya. Basis analisis yang akan saya pakai di sini adalah teori-teori mengenai “ruang” (space) terutamaabstract space. Yang saya maksud dengan abstract space di sini adalah ruang yang tidak tidak tersentuh oleh dunia nyata atau biasa disebut dengan istilah virtual. Selain itu, dalam menulis artikel ringan ini, saya terilhami oleh metode riset kualitatif yang biasa disebut dengan netnografi(netnography). Netnografi adalah etnografi di internet. Artinya, metode ini menggunakan teknik-teknik riset etnografis untuk mengkaji kebudayaan dan masyarakat yang muncul melalui komunikasi berbasis internet. Metode riset kualitatif ini pada mulanya digunakan untuk meriset konsumen di online misalnya forum-forum di internet untuk menjajagi apa yang diminati dan dikehendaki oleh konsumen. Metode ini sangatlah berguna untuk melihat kehadiran kaum salafi di ruang online –ruang-ruang forum–dan bagaimana mereka mempersuasi audien.

Makna Ruang Maya Bagi Salafi
Sebagaimana kita tahu tahu bahwa kaum mainstream Indonesian yang berhaluan Sunni masih belum bisa menerima sepenuh hati kehadiran kalangan salafi. Meskipun istilah salafi atausalafiyyah sendiri sudah lama dipakai I Indonesia misalnya oleh kalangan NU untuk menamai pesantren mereka, namun salafi yang saya maksudkan di sini, masih dianggap oleh mainstream Islam di Indonesia sebagai Wahhabi. Dalam kajian Islam, Wahhabi sebenarnya masih dalam kategori Sunni, namun masyarakat Sunni Islam di Indonesia—merupakan Sunni terbesar di seluruh dunia—belum bisa memasukki Wahhabi ke dalam kelompok mereka. Dalam diskursus publik, mayoritas ulama di Indonesia keberatan dengan Wahhabi. Fenomena lain yang sering dijumpai adalah meskipun mereka secata teologis berafilalsi dengan Wahhabi namun kebanyakan juga tidak berterus terang atau enggan disebut sebagai kaum Wahhabi. Hal ini semua karena stigmatisasi Wahhabi di Indonesia sebagai kelompok sesat dalam Islam sudah sekalian lama terjadi. Sudah barang tentu bagi mereka yang belajar di sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah NU, Perti, al-Wasiliyah organisasi-organisasi lainnya, pernah disodori pelajaran Ahlusunnah Waljamaah dengan menggunakan buku pegangan yang dikarang oleh KH. Siradjuddin Abbas. Jelas dalam buku beliau, I’tiqad Ahlussunnah Waljamaah, Wahhabi dikeluarkan dari firqah najiyah (kelompok yang selamat). Tidaknya hanya Wahhabi, seluruh mereka yang menolak Imam Ashأٹآ؟أ„آپrأ„آ« dan Mأ„آپturidأ„آ« sebagai pedoman i’tiqad mereka bukan menjadi bagian dari mereka.
Namun yang lebih mendasar lagi, penolakan atas Wahhabi oleh kalangan Islam mainstream juga disebabkan oleh kekhuwatiran mereka akan ajaran Wahhabi yang mengancam pada tradisi keagamaan kaum mainstream. Di sini kaum mainstream bisa dikatakan sebagai kaum ortodoks dimana mereka menggunakan alasan-alasan kesucian doktrin agama untuk melarang ajaran lain yang dipandangnya keluar dari ortodoksi. Talal Asad menyatakan ortodoksi adalah pengaturan kembali pengetahuan yang bertujuan membangun sebuah relasi penguasaan wacana dalam hal pengaturan mana bentuk-bentuk praktis Islam yang benar. (210-11, Genealogy of Religion).
Meskipun di Saudi Arabia, salafi-Wahhabi bisa dikatakan sebagai pemegang ortodoksi, tapi di Indonesia mereka tidak demikian adanya. Dari perspektif kaum mainstream Islam Indonesia, salafi-Wahhabi adalah kaum heterodok karena pemegang kebenaran ajaran Islam di Indonesia adalah kelompok mainstream Islam yang memiliki perbedaan cara pandang keagamaan dengan kaum salafi-Wahhabi. Karenanya, pada titik ini, keberadaan kaum Wahhabi sebenarnya hampir mirip dengan nasib-nasib kelompok sempalan lainnya, katakanlah kelompok Syiah atau Ahmadiyah. MUI sendiri misalnya secara implisit menolak salafi melalui fatwa-fatwa mereka yang menolak jihad ekstrim kaum salafi-Wahhabi sebagaimana juga menolak kaum Syiah.  Nahdlatul Ulama secara keras menolak model pemikiran dan praktik keagamaan kaum Wahhabi.  Kembali kepada pandangan Talal Asad  bahwa kaum Muslim yang memiliki kuasa untuk mengatur, mempertahankan, mempersyaratkan, merendahkan atau mengganti hal-hal yang tidak benar adalah kaum ortodok.
Sebagai kelompok heterodok, kaum salafi-Wahhabi di Indonesia memerlukan ruang untuk mengekspresikan dan mempertahankan doktrin mereka yang dianggap “menyimpang” darimainstream Islam di Indonesia dan “internet space” adalah pilihan yang tepat. Ketika mereka tidak bisa atau terancam oleh ketatnya ortodoksi dalam “concrete space,” maka ruang internet menyediakan mereka kebebasan untuk berdakwah karena di dalam ruang ini mereka adalah atau kita adalah pemegang kendali diskursus yang kita kehendaki. Berbeda dengan model interaksi “dari muka ke muka,” interaksi di ruang internet bisa dilakukan secara arbitrer, doktriner dan sekaligus otoriter. Dalam konteks Indonesia, Salafi-Wahhabi memerlukan ruang yang demikian ini untuk bergerak  karena pada dasarnya mereka adalah “kaum ortodoksi” juga di negara asalnya, namun karena ortodoksi mereka tidak mendapatkan legitimasi maka mereka menjadi heterodok. Di ruang maya ada proses dialog dan interaksi, tapi pemegang domain secara unilateral bisa menghentikan atau mentiadakan proses dialog atau forum. Ruang maya juga merupakan hal yang paling strategis untuk berkampanye pada audien yang tidak memerlukan penelahaan panjang (tidak kritik). Namun patut diakui bahwa daya juang kaum salafi-Wahhabi di ruang maya luar sangat efektif. Saya tidak menjumpau kelompok-kelompok heterodok lain yang seperti salafi-Wahhabi ini yang sedemikian efektif dan strategis dalam menggunakan “internet space.” Katakanlah kelompok Ahmadiyah dan Syiah Indonesia, mereka tidak punya “cyberspace fighters” sebagaimana yang dipunyai oleh kaum salafi-Wahhabi. Internet space sekarang menjadi semacam masjid virtual pusat pembelajaran alternatif.
Dalam kondisi yang terdesak di ruang konkrit, web-space menyediakan sifat immediacy, kecepatan untuk memanfaatkan media online ini dalam merespon peristiwa, kejadian, atau hal-hal genting lainnya, dalam waktu yang hampir bersamaan. Surat kabar, hasil riset, majalah dan sumber-sumber informasi offline lainnya tidak memiliki ini. Kita teringat ketika kaum salafi-Wahhabi mendapatkan tuduhan sebagai pelaku pengeboman beberapa tempat penting di Eropa, dengancyberspace mereka bisa bereaksi secara cepat baik reaksi dan meluas itu untuk melakukan pembenaran maupun pengingkaran akan keterlibatan dirinya. Meskipun para ahli cyberspace crime bisa menemukan “concrete space” yang dijadikan sebagai tempat dimana mereka mengeluarkan pernyataan tersebut, tetapi hal ini memerlukan waktu yang lumayan agak panjang dan cara yang agak rumit. 
Dalam satu dekade terakhir, setelah beberapa peristiwa pengeboman di beberapa tempat penting di Indonesia dimana kaum salafi-Wahhabi adalah pihak yang banyak dituduh, dicurigai dan ada juga yang sudah terbutki secara hukum, mereka menyadari akan marginalisasi kelompok mereka di ruang konkrit. Tidak hanya menyadari hal ini, namun mereka berusaha untuk mencari ruang baru (alternative site). Ruang baru ini tidak hanya menyediakan kenyamanan bagi mereka, namun juga mempermudah transnasionalisasi ide dan gagasan mengingat frontier di dalam virtual spacesangat cair dan bahkan bisa dikatakan borderless (tanpa batas). Di dunia nyata, transnasionalisasi membutuhkan ongkos yang tidak murah. Memindahkan dan mengirimkan orang, buku, dan juga hal-hal sarana lainnya dari satu negara ke negara lain tidak bisa dilakukan tanpa dukungan uang yang banyak. Lihat berapa uang yang dihabiskan oleh pemerintah Saudi dalam menyebarkan Islam-versi mereka ke negara-negara lain dalam kurun 30 tahun terakhir ini. Namun dalam dunia maya, mobilitas dan migrasi ide dan gagasan tidak memerlukan kehadiran seseorang, rujukan yang tersentuh, dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana dengan otoritas agama? Dunia maya tidak kurang canggih dalam mengakomodasi dan mempertahankan otoritas agama. Apabila di dunia offline, otoritas agama bisa runtuh gara-gara penampilan seorang pemegang otoritas yang kacau, di dunia maya, otoritas agama tidak hanya disediakan ruang untuk menyampaikan, tapi juga ruang untuk memperindah dan bila perlu memanipulasi kekurangan-kekurangan yang terjadi di ruang offline. Inilah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh ruang maya dan salafi Wahhabi Indonesia membaca ini sebagai hal yang berguna bagi perjuangan mereka.
*) Penulis adalah Rais Syuriah PCI-NU Jerman, saat ini menetap di Berlin.

Ulama Lebanon Ingatkan 3 Kelompok Ektrem

Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang menerima kunjungan ulama dari Universitas Lebanon, Syekh Samir Abdurrahman Al-Khauli. Ia hadir dalam kuliah tamu Sekolah Tinggi Agama Islam “Ma’had Aly Al-Hikam” Malang dengan tema “Madhaar Al-Guluw fi Al-Din” (Bahaya Ekstremisme dalam Agama) di gedung induk Pesma Al-Hikam Malang, Jawa Timur, Ahad Siang (08/12). 
Syekh Samir Abdurrahman Al-Khauli mengatakan, muslim di manapun harus selalu waspada dengan faham-faham eksterim dan radikal di dalam agama Islam. Karena gerakan ini memiliki misi besar dalam menghancurkan generasi muslim. 
“Dengan memperkuat akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, kita bisa menghindari ancaman yang menyerang kita,” kata Syekh Samir dalam acara kuliah tamu tersebut. 
Dia mennyatakan bahwa gerakan radikal dan ekstrem itu ada tiga kelompok, yakni Wahabi, Hizbul Ikhwan, dan Hizbut Tahrir. Wahabi dicirikan di antaranya dengan sikapnya yang selalu menganggap kafir semua orang yang berbeda faham dengannya.
“Bahkan, ada seorang khatib di salah satu  masjid Mekkah, yang berargumen dalam khotbahnya bahwa mungkin saja orang muslim yang ada saat ini hanyalah kalian yang berada di masjid ini. Ini salah satu akidah mereka yang sesat,” ungkap Syekh Samir.
Selain itu, menurut Samir, mereka (kelompok Wahabi) sering menuduh bid’ah ritual-ritual umum seperti tasyakuran dalam acara maulid. Padahal, isi acara dalam maulid adalah membaca al-Quran, membaca sejarah Nabi Muhammad, kemudian makan dan minum yang baik dan halal. Apalagi menurut mereka binatang yang disembelih dalam acara maulid itu lebih haram daripada daging babi sekalipun. 
Mengenai kelompok Hizbul Ikhwan pada awalnya gerakan ini sangat moderat. Gerakan yang dipimpin Hasan Al-Banna ini mengajak kebaikan secara menyeluruh. Namun hal ini sangat berbeda dengan Hizbul Ikhwan yang ada pada masa ini. Mereka hampir sama dengan gerakan Wahabi yang sering menuduh bid’ah dan mengkafirkan kelompok lain. 
Terkait kelompok Hizbut Tahrir, sambungnya, gerakan ini berkeyakinan bahwa tidak ada syariat yang wajib dijalankan ketika negara khilafah didirikan. Lebih ekstrem lagi, shalat Jumat tidak wajib jika khilafah belum ditegakkan.  
Menurutnya, para generasi muslim harus mempelajari strategi dan taktik penyerangan mereka dengan memahami faham-faham sesat yang sering mereka lontarkan. Jangan terkelabui dengan slogan-slogan semisal memurnikan keimanan dan tauhid, menghindari bid’ah dan kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah.
“Seperti Wahabi yang memiliki konsep bahwa allah itu duduk di Arsy-nya. Padahal Imajinasi apapun tentang Allah itu sangat dilarang oleh Nabi,” ungkap Syekh Samir.  (sumber: www.nu.or.id)


Simak di: http://www.sarkub.com/2013/ulama-lebanon-ingatkan-3-kelompok-ektrem/#ixzz2nKuE6xtm
Salam Aswaja by Tim Menyan United
Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on Facebook